Pages

Saturday, June 18, 2011

Khadijah R.A Penentram Di Kala Suami Gundah (Bag. 1)

Setelah menikahi Khadijah dan dikarunia beberapa orang anak, Allah Subhanahu Wa Ta‘ala menjadikan Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menyukai khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih beliau sukai daripada menyendiri. Untuk apa?

Beliau menggunakan waktu untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh tiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit dan jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan orang-orang Mekah yakni menyembah berhala dan lain-lain.

Membantu Suami Mengemban Tugas Suci

Khadijah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau menyurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan di rumah.

Apabila suaminya pergi ke gua, kedua mata beliau senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan beliau juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri. Hingga akhirnya suaminya diangkat menjadi Rosul Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.

Khadijah adalah orang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rosul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam. Beliau adalah seorang istri yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi, suami yang dicintai untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman, sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.

Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau, kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Khadijah meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan bahwa celaan manusia pada beliau tidak ada artinya.

Sejak saat itu Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam memulai lembaran hidup baru yang penuh berkah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada istrinya yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang telah habis. Khadijah turut mendakwahkan Islam disamping suaminya. Diantara buah yang pertama adalah Zaid bin Haritsah dan juga 4 puterinya.

Khadijah R.A Penentram Di Kala Suami Gundah (Bag. 2)

Menghadapi Permusuhan Kaum Musyrik

Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya, akan tetapi Khadijah tetap berdiri kokoh. Walau Allah memilih kedua putranya yang bernama Abdullah dan Al-Qosim untuk menghadap-Nya tatkala masih kanak-kanak Khadijah tetap bersabar.

Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana Syahidah pertama bernama Sumayyah tatkala menghadapi maut karena siksaan para thaghut, hingga jiwanya menghadap Sang Pencipta dengan penuh kemuliaan.

Beliau juga harus berpisah dengan puteri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri Utsman bin Affan, karena puterinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan agamanya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan, akan tetapi tidak ada istilah putus asa bagi seorang mujahidah.

Sebelumnya, beliau juga telah menyaksikan seluruh kejadian yang menimpa suaminya disaat beliau dakwah dijalan Allah, namun beliau menghadapi segala musibah dengan kesabaran. Semakin bertambah berat ujian, semakin bertambahlah kesabaran dan kekuatannya. Beliau campakkan seluruh bujukan kesenangan dunia yang menipu yang hendak ditawarkan dengan aqidahnya.

Begitulah, Khadijah telah mengambil suaminya sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka kepada kaum muslimin, Khadijah tak ragu bergabung dengan kaum muslimin dan beliau tinggalkan kampung halaman tercinta untuk menempa kesabaran selama 3 tahun bersama Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala.

Khadijah R.A Penentram Di Kala Suami Gundah (Bag. 3)

Kepergian Beliau

Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut disaat berusia 65 tahun. Selang 6 bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul pula Khadijah, yakni 3 tahun sebelum Hijrah.

Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang dihadapi Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebab bagi beliau, Khadijah merupakan teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.

Begitulah, Khadijah telah pergi menghadap Robb-nya sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah dijalan Allah dan berjihad dalam ujian-Nya. Beliau menjadi seorang istri yang bijaksana yang mampu meletakkan urusan sesuai pada tempatnya, dan mencurahkan segala kemampuannya untuk mendatangkan keridhoan Allah dan Rosul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapatkan salam dari Robb-Nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di Surga. Karena itu pulalah Rosulullah bersabda,
“Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid”.

Mengingat begitu agung kepribadian akhlak Khadijah, sudah semestinya para muslimah menjadikan beliau sebagai teladan. Setia pada suami dikala sedih maupun bahagia.
(abu shafy)

Sumber :
Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy Syalabi. Wanita-wanita Teladan Di Masa Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Cetakan III, Pustaka At-Tibyan, Solo, 2003.

Wallahu'alam Bishshowab

Kaum Muslimin Perintis Kejayaan Islam (Bag. 1)

Perintis Kejayaan Islam

Da'wah Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam secara (sirriyah) mampu menyebarkan Islam pada seluruh keluarga besar dari kabilah Quraisy secara merata. Ini tampak dengan masuk Islamnya Abu Bakar dari keluarga besar Taim, Utsman bin ‘Affan dari Bani Umayyah, Al Zubair bin Al ‘Awam dari Bani Asad, Mush’ab bin ‘Umair dari Bani Abduddar, Ali bin Abi Thalib dari Bani Hasyim, Umar bin Al Khaththab dari Bani ‘Adi, Abdurrahman bin ‘Auf dari Bani Zuhrah dan Utsman bin Madz’un dari Bani Jumah. Hal ini memiliki pengaruh besar dalam perkembangan dan perlindungan terhadap da'wah yang baru muncul ini dikemudian hari.

Kaum muslimin yang menerima da'wah Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pada fase ini tidak hanya terbatas pada kabilah Quraisy. Diluar kabilah Quraisy pun banyak yang menerima da'wah beliau. Mereka yang masuk Islam seperti Abdullah bin Mas‘ud dari kabilah Hudzail, ‘Utbah bin Ghazwan dari kabilah Mazin, Abdullah bin Qais dari orang-orang Asy’ari, ‘Ammar bin Yasir dari ‘Anasi salah satu dari kabilah Mudzjih, Zaid bin Haritsah dari Bani Kalb, Al Thufail bin Amru dari kabilah Daus, Abu Dzar dari kabilah Ghifar, Amru bin ‘Abasah dari kabilah Sulaim, ‘Amir bin Rabi’ah dari kabilah ‘Anazi bin Wail, dan Shuhaib Al Namari dari Bani Al Namaer bin Qasith.

Kaum Muslimin Perintis Kejayaan Islam (Bag. 2)

Orang Pertama Masuk Islam

Diantara yang masuk Islam pertama kali adalah :
1. Khadijah Rodhiyallahu ‘Anha. Beliau merupakan orang pertama dan wanita pertama yang masuk Islam sebagaimana ditunjukan dalam hadits permulaan turunnya wahyu. Tentu saja hal ini menguatkan pendapat Imam Al Zuhri dan Ibnu Ishaq tentang orang yang pertama masuk Islam adalah Khadijah.
2. Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu ‘Anhu pun memeluk agama Islam setelah Khadijah, saat beliau berusia 10 tahun dan beliau adalah lelaki pertama yang masuk Islam. Hal ini wajar sebab beliau berada dalam pemeliharaan Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan Khadijah Rodhiyallahu ‘Anha.
3. Zaid bin Haritsah Rodhiyallahu ‘Anhu. Para ahli sirah berbeda pendapat tentang lelaki dewasa yang pertama masuk Islam antara Zaid bin Haritsah atau Abu Bakar. Imam Al Zuhri menyatakan bahwa Zaid bin Haritsah adalah orang pertama masuk Islam. Dalam pengertian lelaki dewasa, karena beliau juga berpendapat orang yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah Rodhiyallahu ‘Anha.
4. Abu Bakar Ash Shiddiq Rodhiyallahu ‘Anhu, sebagaimana dijelaskan Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabdanya,
“Sesungguhnya Allah telah mengutusku (sebagai Nabi) kepada kalian, lalu kalian katakan (kepadaku), “Kamu telah berdusta”, dan Abu Bakar berkata : “Engkau benar”. Abu Bakar telah menolongku dengan jiwa dan hartanya”. (Riwayat Al Bukhari)

Imam Ibnu Katsir menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa beliau adalah orang yang pertama masuk Islam.

Kaum Muslimin Perintis Kejayaan Islam (Bag. 3)

Abu Bakar bergerak menyebarkan da'wah Islam kepada keluarga, kerabat dan teman-temannya yang terpercaya. Lalu beberapa orang menerima da'wah beliau diantaranya : keluarga beliau, sebagaimana dituturkan ‘Aisyah,
“Aku hanya mengerti kedua orang tuaku telah memeluk agama Islam”. (Riwayat Al Bukhari)

Juga Utsman bin ‘Affan, Al Zubair bin Al ‘Awam, Thalhah bin Ubaidilah, Sa’ad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin ‘Auf, Utsman bin Madz’un, Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Abu Salamah Ibnu Abdilasad, Al Arqam bin Abi Al Arqam.

Dari hubungan mereka dengan lainnya masuklah beberapa mawali (budak yang telah dibebaskan) kedalam Islam, diantaranya : Bilal bin Rabah, Shuhaib bin Sinan, Ammar bin Yasir beserta bapaknya yaitu Yasir dan ibunya bernama Sumaiyah binti Khobath.
5. Waraqah bin Naufal Rodhiyallahu ‘Anhu. Beliau termasuk muslimin pertama dengan dasar sabda Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Dari Aisyah bahwasanya Khadijah bertanya kepada Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam tentang Waraqah bin Naufal, lalu beliau menjawab : ‘Aku melihatnya dalam mimpi mengenakan baju putih, maka aku kira seandainya ia dari ahli neraka maka tidaklah ia mengenakan baju putih’”. (Riwayat Ahmad)
6. Kholid bin Sa’id bin Al ‘Ash Rodhiyallahu ‘Anhu.
7. Al Zubair bin Al ‘Awam Rodhiyallahu ‘Anhu masuk Islam pada usia 17 tahun melalui da'wah Abu Bakar.
8. Amru bin ‘Abasah Al Sulami Rodhiyallahu ‘Anhu.

Demikianlah sebagian mereka yang diberi anugerah menjadi perintis kejayaan Islam dan mendampingi Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam perjuangan beliau. Semoga bermanfaat.
(Kholid Syamhudi, Lc.)

Wallahu ’Alam Bishshowab

Thursday, June 16, 2011

Wahyu Terputus (Bag. 1)

Wahyu Terputus

Terdapat selang waktu beberapa hari antara turunnya wahyu pertama dengan wahyu berikutnya. Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menganggap bahwa selang waktu itu sebagai tanda bahwa wahyu telah terputus. Hal ini membuat Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam sedih. Bagaimana peristiwa tersebut terjadi? Kapan hal itu berakhir?

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang intinya menjelaskan jangka waktu terputusnya wahyu adalah beberapa hari. Inilah pendapat yang kuat dan bahkan yang bisa dipastikan, setelah diadakan penyelidikan dari segala sisi. Pendapat yang banyak menyebar, bahwa masa terputusnya wahyu itu berlangsung selama 3 atau 2,5 tahun merupakan pendapat yang tidak benar.

Pada masa-masa terputusnya wahyu itu, Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam hanya diam dalam keadaan termenung sedih. Rasa kaget dan bingung mengikuti diri beliau. Al-Bukhari meriwayatkan didalam Kitabut Ta’bir yang isinya sebagai berikut : Wahyu terputus selang beberapa waktu, hingga Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dirundung kedukaan seperti halnya diri kita yang sedang berduka.

Beberapa kali beliau pergi ke puncak gunung agar mati saja disana. Tapi setiap kali beliau sudah mencapai puncaknya dan terbesit keinginan untuk terjun dari sana, muncul bayangan Jibril yang berkata, “Wahai Muhammad, engkau benar-benar Rosul Allah”.

Dengan begitu hati dan jiwa beliau menjadi tenang kembali. Setelah itu beliau pulang kembali. Jika kevakuman wahyu itu berselang lagi, maka beliau melakukan hal sama. Namun selagi sudah tiba dipuncak gunung tiba-tiba muncul bayangan Jibril dan mengatakan hal yang sama.

Wednesday, June 15, 2011

Wahyu Terputus (Bag. 2)

Wahyu Turun Lagi

Ibnu Hajar menuturkan, selama wahyu terputus untuk beberapa hari lamanya, beliau ingin ketakutan dan kedukaannya segera sirna dan kembali seperti sebelumnya. Tatkala bayang-bayang kebingungan mulai surut, tanda-tanda kebenaran mulai membias, dan beliau menyadari secara yakin bahwa kini beliau benar-benar menjadi seorang Nabi Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi.

Bahwa yang mendatangi beliau adalah duta pembawa wahyu yang menyampaikan pengabaran langit, kegelisahan dan penantiannya terhadap kedatangan wahyu merupakan sebab keteguhan hatinya jika wahyu itu datang lagi, maka Jibril benar-benar datang lagi untuk kedua kalinya.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia pernah mendengar Rosulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam menuturkan masa turunnya wahyu. Beliau bersabda,
“Tatkala aku sedang berjalan, tiba-tiba kudengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan kearah langit. Ternyata disana ada Malaikat yang mendatangiku di Gua Hira, sedang duduk disebuah kursi, menggantung diantara langit dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerembab ke tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, ‘Selimutilah aku, Selimutilah aku’!”.

Lalu Allah Subhanahu Wa Ta‘ala menurunkan surat Al-Mudatsir: 1-5. Setelah itu wahyu datang berturut-turut.

Wahyu Terputus (Bag. 3)

Cara Wahyu Turun

Wahyu merupakan sumber risalah dan batasan-batasan dakwah. Adapun penurunannya melalui berbagai cara. Ibnu Qayyim rohimahullah menyebutkan cara-cara penurunan wahyu dan membaginya kedalam tingkatan-tingkatan. Tingkatan-tingkatan tersebut yaitu :
1. Mimpi yang hakiki. Ini merupakan permulaan wahyu yang turun kepada Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.
2. Apa yang disusupkan kedalam jiwa dan hati beliau, tanpa dilihatnya, sebagaimana yang dikatakan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Sesungguhnya Ruhul-Qudus menghembuskan kedalam diriku, bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati hingga disempurnakan ridzkinya, maka bertaqwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta, dan janganlah kalian menganggap lamban datangnya ridzki, sehingga kalian mencarinya dengan cara mendurhakai Allah, karena apa yang ada disisi Allah tidak akan bisa diperoleh kecuali dengan menta’ati-Nya”.
3. Malaikat muncul dihadapan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam rupa seorang lelaki, lalu bicara dengan beliau hingga beliau bisa menangkap secara langsung apa yang dibicarakannya. Dalam tingkatan ini kadang-kadang para sahabat juga bisa melihatnya.
4. Wahyu datang menyerupai bunyi gemerincing lonceng. Ini merupakan wahyu yang paling berat dan Malaikat tidak terlihat oleh pandangan Nabi, hingga dahi beliau berkerut mengeluarkan keringat sekalipun pada waktu yang sangat dingin, dan hingga hewan tunggangan beliau menderum ke tanah jika beliau sedang menaikinya. Wahyu seperti ini sekali pernah datang tatkala paha beliau berada diatas Zaid bin Tsabit, sehingga Zaid bin Tsabit merasa keberatan dan hampir saja dia tidak kuat menyangganya.
5. Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bisa melihat Malaikat dalam rupa aslinya, lalu menyampaikan wahyu seperti yang dikehendaki Allah kepada beliau. Wahyu seperti ini pernah datang dua kali, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surat An-Najm.
6. Wahyu yang disampaikan Allah kepada beliau, yaitu diatas lapisan-lapisan langit pada malam Mi’raj, berisi kewajiban sholat dan lain-lain.
7. Allah berfirman secara langsung dengan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, tanpa perantara sebagaimana Allah berfirman dengan Musa bin Imran. Wahyu semacam ini secara pasti berlaku bagi Musa berdasarkan nash Al-Qur‘an dan menurut penuturan beliau dalam hadits tentang Isro’.

Sebagian pakar menambah dengan tingkatan wahyu yang ke delapan, yaitu Allah berfirman secara langsung dihadapan beliau tanpa ada tabir. Ini termasuk masalah yang dipertentangkan orang-orang salaf maupun khalaf. Yang pasti, tingkatan yang terakhir ini merupakan pendapat yang tidak kuat.

Demikianlah, Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam merasa sedih dan hampir putus asa ketika wahyu terputus. Namun, atas pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, beliau mampu menghadapinya dan merasa yakin bahwa dirinya benar-benar utusan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.
(naibul abu)

Sumber :
Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar, cet. ke-11, Jakarta 2001.


Wallahu’alam Bishshowab

Kesadaran akan Pengawasan Allah (Bag. 1)

Kesadaran Akan Pengawasan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala

Salah satu yang harus ada dalam sikap pengawasan terhadap diri sendiri adalah mengetahui adanya muraqaballah atau pengawasan Allah terhadap diri seorang hamba. Hal ini sangat berkaitan dengan masalah maiyyatullah atau kebersamaan Allah terhadap hambanya beserta asma dan sifat Allah yang berhubungan dengan masalah ini.

Realisasi Asmaul Husna

Kebersamaan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala dengan para hamba-Nya antara lain difirmankan oleh-Nya,
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam diatas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk kedalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hadid: 4)

Kebersamaan Allah dengan hamba-Nya tidak berarti Allah menyatu atau bercampur atau berada ditengah-tengah makhluknya. Salah paham yang seperti ini bertentangan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi dan bertentangan pula dengan kenyataan sifat Allah bahwa Allah bersemayam diatas ‘Arsy. Lagipula, kata ma’a (bersama) dalam bahasa Arab tidak selalu menunjukan adanya percampuran atau kebersamaan di satu tempat. Kata tersebut ditafsirkan sesuai konteks kalimatnya.

Ayat ini menunjukan bahwa kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya bermakna bahwa Allah mengetahui keadaan mereka, mendengar pembicaraan mereka, melihat perbuatan mereka dan mengatur segala urusan mereka sedangkan Dia bersemayam diatas ‘Arsy. Inilah pemahaman yang benar tentang kebersamaan Allah.

Maka muraqabatullah menuntut direalisasikannya makna asma Allah Ar-Roqib (Yang Maha Mengawasi), Al-Hafidzh (Yang Maha Memelihara), Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui), As-Sami’ (Yang Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Yang Maha Melihat) dengan dibarengi perasaan mengagungkan dzat-Nya.

Maka jika kita duduk dihadapan manusia, jadilah penasihat bagi hati dan jiwa kita sendiri. Jangan tergoda dengan berkumpulnya manusia dihadapan kita, sebab mereka itu hanya mengawasi lahiriah kita, sedangkan Allah mengawasi lahir batin kita

Kesadaran akan Pengawasan Allah (Bag. 2)

Berbekal Pengagungan Dan Pengakuan

Sikap pengagungan terhadap Allah ini disamping karena kehebatan-Nya yang mendorong kita untuk selalu bersama Allah, juga karena pengetahuan yang kita miliki mengenai kekuasaan-Nya dalam mengadakan, mempersiapkan dan memberi hidayah dan menyesatkan. Jika kita mengetahui bahwa kita sendiri tidak kuasa mempersiapkan dan memberi hidayah kepada hati kita, maka kini tahulah kita bahwa betapa besar karunia Allah yang telah Dia anugerahkan didalam hati-hati orang beriman.

Ketika telah mengetahui kekuasaan Allah terhadap hati kita dalam hal menciptakan, mempersiapkan dan memberi hidayah, maka kitapun akan mengarah secara totalitas untuk mengagungkan-Nya disertai ilmu bahwa Dia selalu bersama kita dimanapun kita berada.

Kemudian kita berjalan kepada Allah dalam keta’atan sambil terus memperhatikan diri kita untuk senantiasa berada diantara tiga keadaan : pengagungan yang melalaikan (ta’zhim muzhil) dan pendekatan diri yang membawa (mudanat hamilah) serta kesenangan yang membangkitkan (surur ba’its).

Kesadaran akan Pengawasan Allah (Bag. 3)

Tiga Keadaan

Ibnul Qayyim menerangkan tiga hal ini dalam Al-Madarij-nya.

Pengagungan yang melalaikan adalah terpenuhinya hati dengan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, sehingga hal itu melalaikannya untuk mengagungkan Selain-Nya, bahkan untuk sekedar menoleh kepada selain-Nya sekalipun. Maka seorang hamba menjadi senantiasa ingat akan keagungan ini ketika hatinya hadir bersama Robb-nya, bahkan hal itu senantiasa menemaninya. Sebab kehadiran hati bersama Allah mewajibkan timbulnya kesenangan dan kecintaan, yang jika keduanya tidak disertai dengan pengagungan maka akan menyebabkan ia keluar dari batas-batas ’ubudiyah (penyembahan) dan keta’atan yang benar.

Mudanat hamilah atau pendekatan diri yang membawa maksudnya adalah pendekatan diri seorang hamba yang membawa untuk berjalan menuju Allah dan melanggengkan perjalanan tersebut serta kehadiran hati bersama-Nya, mengagungkan-Nya serta terlalaikan karena keagungan-Nya itu dari selain Allah.

Sedangkan kesenangan yang membangkitkan adalah kegembiraan dan penghormatan serta kelezatan yang didapat seorang hamba pada saat melakukan pendekatan kepada Allah tersebut. Sebab sama sekali tidak ada sesuatupun kenikmatan duniawi yang menyerupai kesenangan dan kegembiraan hati dengan Allah. Tak ada sesuatu kesamaan yang dapat dijadikan ukuran.

Tidak diragukan lagi bahwa kesenangan ini membangkitkan semangat seorang hamba untuk melanggengkan perjalanannya menuju Allah Subhanahu Wa Ta‘ala serta mengarahkan daya upayanya menuju kepada-Nya dan mendapatkan keridhoan-Nya. Siapa saja yang belum mendapatkan kesenangan ini dan tidak juga sedikit darinya, maka hendaknya ia mengarahkan tuduhannya kepada iman dan amalnya sebagai penyebab, sebab iman itu memiliki rasa manis. Siapa saja yang belum merasakan manisnya iman maka hendaknya ia mengevaluasi diri kembali.

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta‘ala akan memberikan ganjaran bagi orang yang beramal atas amalnya dengan kenikmatan yang ia rasakan dalam hatinya. Jika ia belum mendapatkannya, maka amalnya itu memiliki andil sebagai penyebab. Pemantauan kita terhadap rasa manis didalam hati akan mewujudkan suatu perlindungan lahiriah dengan menjaga aktivitas lahir kita secara berkesinambungan. Juga akan melahirkan perlindungan batiniah dengan cara menjaga pikiran dan hati serta aktivitas batin.

Begitu banyak manfaaat yang didapat dari menyadari adanya muraqabatullah. Seorang makhluk yang terlepas dari kesadaran ini begitu merugi. Hendaknya kita jadikan kesadaran muraqabatullah senantiasa ada sebagai bagian pengawasan terhadap diri kita sendiri. (abuokasha)
Sumber :
Menggapai Manisnya Iman, Shalah Syadi; Qawaidul Mutsla, Syaikh Al-Utsaimin

Bekasi, Rajab 12/7/1432 H (Juni 14/6/2011)
Wallahu’alam Bishshowab

Monday, June 13, 2011

Rahasia Antara Yang Harus Disembunyikan Dan Yang Boleh Dibuka (Bag. 3)

Rahasia Ranjang

Sebagaimana dilarang mengumbar rahasia orang lain kepada suami istri dengan dalih keterbukaan, sesungguhnya yang lebih penting lagi adalah menjaga rahasia suami istri. Tidak boleh seorang istri menceritakan hubungan suami dengannya kepada keluarga atau sahabatnya, demikian halnya seorang suami tidak boleh membuka rahasia istrinya serta kehidupan mereka kepada keluarga atau sahabatnya. Suami istri adalah pemegang amanah atas rahasia keduanya, tidak diragukan lagi bahwa menjaga rahasia suami istri merupakan sebab-sebab kelanggengan kehidupan berumah tangga. Dan termasuk menjaga rahasia adalah menutupi aurat hubungan suami istri. Tapi sayangnya, sebagian perkumpulan perempuan bahkan mereka yang sudah terpelajarpun, kita sering mendengar darinya cerita-cerita yang seharusnya malu untuk diungkapkan. Setiap dari mereka masuk kekhususan suami istri, mereka tidak tahu besarnya dosa tersebut dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.

Sebuah hadits Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Sesungguhnya pengkhianat amanah yang paling besar di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seorang suami yang menggauli istrinya kemudian menyebarkan rahasia ranjangnya” dalam sebuah riwayat
“Sesungguhnya seburuk-buruk manusia dihadapan Allah pada hari Kiamat adalah seorang suami istri yang menggauli istrinya kemudian menyebarkan rahasia ranjangnya”. (Riwayat Muslim)

Problematika ini lebih banyak terjadi dikalangan kaum wanita dibanding kaum laki-laki. Seseorang mengatakan ketika memuji kemuliaan istri dan sifat penjagaan rahasianya,

Duhai, apabila suaminya meninggalkan ranjang...
Maka terkuncilah segala cerita dan terjagalah seluruh rahasia...

(Footnotes)
Diterjemahkan dari majalah 'Al Furqan' edisi : 1205/31 Mei 2004. Judul Asli 'Maa baina Ash Shoraah wa As Sir'.

Rahasia Antara Yang Harus Disembunyikan Dan Yang Boleh Dibuka (Bag. 2)

Rahasia Orang Lain

Ada sebagian pasangan suami istri, sahabat atau kerabat yang berkeyakinan bahwa keterusterangan akan kedua belah pihak hendaklah disetiap hal, hingga berkaitan dengan urusan-urusan yang khusus. Mereka berpendapat bahwa tidak boleh satu pihak menyembunyikan dari yang lain, jelas hal ini tidak benar. Seorang istri atau suami pasti mempunyai teman, keluarga atau kerabat. Apabila salah satu diantara mereka diberi amanah untuk menjaga rahasianya, maka tidak boleh seorang istri atau suami membuka rahasia keluarganya, saudara atau teman pada istri atau suaminya. Apalagi hal tersebut jika diketahui oleh suami atau istri tidak mendatangkan manfaat malah mendatangkan kemudhorotan. Hal ini berlaku untuk suami istri yaitu wajib menjaga rahasia orang lain.

Hendaklah sebuah majelis diadakan dengan amanah terhadap yang terjadi didalamnya. Seseorang tidak boleh menyebarkan apa yang tidak disenangi oleh saudara-saudaranya. Dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam beliau bersabda,
“Apabila seseorang berbicara dengan sebuah pembicaraan lalu menoleh, maka pembicaraan itu adalah amanah”. (Riwayat Tirmidzi)
Hasan Al Bashri menguatkan makna hadits yang agung ini dengan ungkapannya,
Sesungguhnya majelis kalian ini adalah amanah, seolah kalian menduga bahwa yang dinamakan amanah hanya berkisar pada dinar dan dirham. Sesungguhnya pengkhianat yang paling parah adalah seseorang yang satu majelis dengan kami, kami merasa tenang disampingnya, lalu ia pergi dan mengumbar cerita tentang kami”.

Diantara perkataan Ulama yang berkaitan dengan menjaga rahasia, hendaklah tidak mendzholimi hak Allah Subhanahu Wa Ta‘ala dan hak kaum muslimin. Maka menjaga amanah disini bukan termasuk amanah.

Rahasia Antara Yang Harus Disembunyikan Dan Yang Boleh Dibuka (Bag. 1)

“RAHASIA”
Antara Yang Boleh Di Buka Dan Di Sembunyikan

Hendaklah seseorang tidak menyebarkan rahasia, sesuatu yang menjadi kekhususan orang lain atau urusan-urusan masyarakat tertentu berdalih keterbukaan dan kejujuran. Rahasia orang adalah amanah yang wajib dijaga. Umar bin Abdul Aziz Rohimahullah mengatakan,
“Hati adalah wadah rahasia, dua bibir adalah gemboknya, sedangkan lisan adalah kuncinya. Hendaklah setiap orang menjaga kunci rahasianya.

Batasan Keterbukaan

Beberapa pendapat telah sepakat bahwa keterusterangan adalah pilar kehidupan rumah tangga yang sehat, namun ada perbedaan pendapat berkaitan dengan batasan keterbukaan. Apakah keterbukaan adalah sesuatu yang mutlak ataukah ada batasan-batasannya? Apakah keterbukaan adalah sesuatu yang wajib ataukah sekedar anjuran? Berapa prosentase keterbukaan antara suami, istri dan sahabatnya? Apakah mereka dalam tingkat yang sama ataukah ada bedanya? Bagaimana keterbukaan bisa berubah dari kenikmatan menjadi malapetaka?

Tidak diragukan lagi bahwa kebohongan dan ketidakterusterangan merupakan sebab terpenting dari munculnya kelemahan jiwa saling mempercayai antara suami dan istri. Seorang istri yang terbiasa berbohong akan memberikan pengaruh yang kuat bagi suaminya untuk tidak mempercayainya walaupun si istri berkata jujur, demikian hal sebaliknya. Kejujuran dan keterusterangan akan menambah jiwa saling percaya, yang merupakan sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh suami istri sejak bersama-sama membangun rumah tangga. Namun bukanlah yang dimaksud dengan keterusterangan adalah meminta suami atau istri untuk menceritakan hal-hal yang berkenaan dengan sebelum pernikahan. Misalnya salah satu dari keduanya mengajukan pertanyaan yang pada dasarnya akan menambah perpecahan seperti contoh : Dahulu siapa yang engkau cintai? Siapa yang mengkhitbahmu sebelum saya? Saat itu kamu keluar sama siapa? Dan lainnya dari pertanyaan yang merupakan peringatan atas awal perpecahan hubungan pernikahan, dan awal dari tumbuhnya bibit-bibit keraguan, apalagi jika suami istri tidak saling memahami dan saling mempercayai.

Pemerhati keluarga berpendapat bahwa suami istri sebelum ikatan perkawinan berhak bertanya dan mencari tahu tentang kondisi satu sama lain. Namun setelah pernikahan, maka kedua belah pihak bertanggung jawab menjaga hak-hak satu sama lain dimulai sejak dijalinnya ikatan perkawinan. Maka seorang suami atau istri tidak boleh mengungkit-ungkit masalah pasangannya, atau mencari-cari urusan yang telah lalu. Keduanya tidak ada hak untuk mengetahui atau menghitung-hitungnya.

Oleh sebab itu keterusterangan ada batasnya, yang tergambar dalam keterusterangan suami istri yang tidak mengarah pada kemudhorotan atau melukai perasaan, terlebih lagi mengetahui hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat.

Friday, June 10, 2011

Riwayat Singkat Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ( Bag. 1 )

Riwayat Singkat Kehidupan Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Mukadimah Penulis

Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta semua mahluk dan seluruh isinya. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam sampai pada akhir kehidupan nanti yaitu hari Kiamat yang saatnya telah ditentukan Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.
Riwayat tentang kehidupan Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ini saya tulis ulang dari sumber (sumber aktif dibawah artikel ini), yang InsyaAllah bermanfa’at untuk menambah ilmu, pengetahuan dan kecintaan kita yang tulus kepada Baginda Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam khususnya untuk para penulis artikel islami dan umumnya untuk kita semua.
Terima kasih untuk sahabat yang sudah mengunjungi wapsite yang sederhana ini dan mohon maaf apabila ada kata, kalimat atau tulisan serta huruf yang salah dalam penulisan ulang artikel ini. Selamat membaca untuk semua sahabat yang saya banggakan, tetap dan terus menambah ’ibadah kita kepada Allah Subhanahu Wata‘ala...

Ciri Fisik Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Ali bin Abi Thalib r.a. memperinci ciri fisik Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam tidak terlalu tinggi dan tidakpula terlalu pendek. Berpostur indah dikalangan kaumnya, tidak terlalu gemuk dan tidakpula terlalu kurus. Perawakannnya bagus sebagai pria yang tampan. Badannya tidak tambun, wajah tidak bulat kecil, warna kulitnya putih kemerah-merahan, sepasang matanya hitam, bulu matanya panjang. Tulang kepalanya dan tulang antara kedua pundaknya besar, bulu badannya halus memanjang dari pusar sampai dada. Rambutnya sedikit, kedua telapak tangan dan telapak kakinya tebal.
Apabila berjalan tidak pernah menancapkan kedua telapak kakinya, beliau melangkah dengan cepat dan pasti. Apabila menoleh, beliau menolehkan wajah dan badannya secara bersamaan. Diantara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan memang beliau adalah penutup para Nabi. Beliau adalah orang yang sangat dermawan, sangat berlapang dada, sangat jujur ucapannya, sangat bertanggung jawab dan sangat baik pergaulannya. Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya”.

Setiap orang yang bertemu Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam pasti akan berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya, baik sebelum maupun sesudahnya”. Begitulah Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam di mata khalayak, sebab beliau berakhlaq sangat mulia seperti yang digambarkan Al-Qur’an,
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qolam: 4)

Riwayat Singkat Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ( Bag. 2 )

Nasab Rosulullah ‘Alaihi Wasallam

Nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Quraisy bin Kilab.
Rosulullah memiliki silsilah yang berujung pada Adnan anak keturunan Nabi Ismail a.s. Semuanya dikenal sebagai orang-orang yang mulia dan sholih. Tak heran jika Rosulullah adalah anak Adam yang paling mulia kehormatan dan paling utama nasabnya. “Aku adalah manusia pilihan dari diantara manusia pilihan dari diantara manusia pilihan”.

Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam adalah putra semata wayang Abdullah, anak terakhir Abdul Muthallib. Abdul Muthallib pernah bernazar, jika dikaruniai 10 anak lelaki, ia akan menyembelih satu orang diantaranya untuk Allah. Ketika diundi, keluarlah nama Abdullah. Ketika Abdul Muthallib akan memenuhi nazarnya, kaumnya bermusyawarah dan menawarkan kepadanya agar menebus putra bungsunya itu dengan 100 ekor unta atau serata dengan di’at 10 orang budak.

Abdullah wafat saat Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam masih dalam kandungan Aminah, ibunya. Aminah adalah anak Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah. Aminah mengirimkan bayinya ke Abdul Muthallib. Lantas Abdul Muthallib membawa bayi yang dinamainya Muhammad itu berthawaf mengelilingi Ka’bah.

Tahun Gajah

Tahun Gajah, apa maksudnya? Di tahun kelahiran Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ada peristiwa besar di Mekah. Abrahah Al-Habsyi seorang panglima perang kebangsaan Habasyah (Ethiopia) berkuasa dan dia sebagai Gubernur Yaman dibawah pemerintahan Raja Najasyi, Raja Habasyah. Ia membangun sebuah gereja besar yang diberi nama Al-Qallais. Abrahah ingin gerejanya itu menjadi kiblat seluruh bangsa Arab. Seorang pria dari Bani Kinanah mendengar obsesi Abrahah itu. Ia pergi ke Yaman dan menyelinap kedalam gereja itu dimalam hari. Lalu ia buang air besar dan kemudian membuang kotorannya di kiblat gereja itu.

Mengetahui itu, Abrahah marah. Ia bersumpah akan pergi ke Mekah dan menghancurkan Ka’bah. Abrahah mengerahkan tentara dan pasukan gajahnya. Namun, perjalanan pasukan gajah ini terhenti di Mina. Allah Subhanahu Wa Ta‘ala membinasakan pasukan itu dengan mengirimkan serombongan Burung Ababil yang melemparkan kerikil mematikan. Tahun terjadinya peristiwa itu dinamakanlah Tahun Gajah.

Ibu Susu Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam

Sudah menjadi tradisi kalangan terpandang Arab, bayi-bayi mereka disusui oleh murdi’at (para wanita yang menyusui bayi). Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ditawarkan kepada murdi’at dari Bani Sa’ad yang sengaja datang ke Mekah mencari bayi-bayi yang masih menyusu dengan harapan mendapat bayaran dan hadiah. Tapi mereka menolak karena Rosulullah anak yatim. Namun Halimah Sa’diyah tidak mendapatkan seroang bayi pun yang akan disusui. Karena itu, agar pulang tanpa tangan hampa, ia mengambil Rosulullah yang yatim itu sebagai anak susuannya.

Keberadaan Muhammad mungil memberi berkah kepada keluarga Halimah, bahkan bagi kabilahnya. Setelah dua tahun, Halimah membawa Muhammad kecil mengunjungi ibunya. Karena sadar bahwa keberadaan Muhammad kecil memberi berkah kepada kampungnya, Halimah memohon Aminah agar Muhammad kecil diizinkan tinggal kembali bersama Bani Sa’ad dan Aminah pun setuju.

Muhammad cilik dikembalikan ke Mekah setelah terjadi peristiwa pembelahan dada. Dua Malaikat datang menghampiri Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa bejana dari emas berisi es. Mereka membelah dada Rosulullah dan mengeluarkan hatinya. Hati itu dibedah dan dikeluarkan gumpalan darah yang berwarna hitam, kemudian dicuci dengan es, setelah itu dikembalikan seperti semula. Halimah khawatir dengan keselamatan Muhammad cilik. Ia dan suaminya sepakat mengembalikan Muhammad kecil kepada ibunya.

Riwayat Singkat Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ( Bag. 3 )

Ibunda Rosulullah (Aminah) dan Kakek Rosulullah (Abdul Muthallib) Wafat

Muhammad kecil pun tinggallah bersama ibunya. Ketika berusia 6 tahun, Muhammad cilik dibawa ibunya mengunjungi paman-pamannya dari Bani Adi bin Najjar di Yatsrib (yang kemudian hari berubah nama menjadi Madinah). Dalam perjalanan ini Aminah wafat di Abwa dan dikuburkan disana. Kemudian Muhammad cilik diasuh kakeknya, Abdul Muthallib. Namun tak berlangsung lama, hanya 2 tahun. Abdul Muthallib wafat ketika Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam berusia 8 tahun. Rosulullah kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Perjalanan ke Syam

Abu Thalib pergi berdagang ke Syam dan keponakannya Muhammad ikut serta. Kafilah dagang ini tiba di Kampung Busra. Mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira. Bahira tahu tentang ajaran Nasrani dan ia faham betul tentang ciri dan sifat Rosul terakhir yang diberitakan oleh Nabi ‘Isa a.s. Bahira melihat ada tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad, keponakan Abu Thalib. Ia menasihati Abu Thalib agar segera membawa pulang keponakannya dan waspada dengan orang-orang Yahudi.

Rosulullah Menikah Dengan Siti Khadijah

Ketika berusia 25 tahun, Rosulullah pergi ke Syam membawa barang dagangan milik Siti Khadijah. Rosulullah ditemani pembantu kepercayaan Siti Khadijah bernama Maisaroh. Maisaroh memberi informasi kepada Siti Khadijah tentang sifat-sifat yang sangat mulia Rosulullah. Kemudian setelah kembali ke Mekah, Muhammad muda menikah dengan Siti Khadijah. Saat dinikahi Muhammad muda, Siti Khadijah bersatus janda. Dari pernikahan ini Muhammad dan Siti Khadijah mendapatkan beberapa orang anak. Ada riwayat yang mengabarkan Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dikaruniai 2 orang anak lelaki dari Siti Khadijah, yaitu Qasim dan Abdullah. Namun keduanya meninggal sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rosul. Rosulullah juga mendapat anak-anak perempuan dari Siti Khadijah, yaitu Zainab, Ruqayyah, dan Ummi Kulsum. Mereka mengamalkan Islam dan meninggal sebelum Rosulullah wafat. Sedangkan putri bungsu Rasulullah dari Siti Khadijah adalah Fathimah. Fathimah meninggal 6 bulan setelah Rosulullah wafat.

Berkhalwat di Gua Hira

Sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rosul, Muhammad suka menyendiri di Gua Hira. Ini dikarenakan ia begitu membenci paganisme agama kaum waktu itu, dan setiap perbuatan keji yang dilakukan kaumnya. Di Gua Hira Muhammad beribadah kepada Robbnya.

Membangun Ka’bah

Ketika Muhammad menginjak usia 35 tahun, orang-orang Quraisy berkumpul untuk membangun kembali Ka’bah yang rusak. Saat proses peletakan kembali Hajar Aswad, para kabilah Quraisy bersengketa. Mereka masing-masing merasa paling berhak melakukannya. Selisih pendapat ini sampai pada puncaknya dan mereka siap saling berperang.

Tapi, akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan orang yang pertama kali masuk dari pintu masjid sebagai hakim yang memutuskan perkara mereka. Dan orang yang muncul pertama kali dari masjid adalah Muhammad Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka serempak mengatakan, “Ini dia Al-Amin, Kami ridho dengannya!!!”

Kemudian Muhammad meminta sehelai selendang, lalu ia ambil Hajar Aswad dan meletakkannya dengan tangannya sendiri. “Setiap kabilah hendaknya mengambil sisi-sisi selendang ini lalu angkatlah bersama-sama”, begitu ucapnya. Kemudian setelah diangkat hingga dekat dengan tempatnya, Muhammad mengangkat dan meletakkan dengan tangannya sendiri Hajar Aswad ditempat yang seharusnya. Dan pembangunan itupun selesai dengan semua kabilah dan mereka semua merasa senang.
(Mochamad Bugi)
dakwatuna.com

Sumber :
www.generasimuslim.com/sirah-nabawiyah/70-riwayat-hidup-muhammad-sebelum-dibangkitkan-menjadi-nabi-dan-rasul

Tuesday, June 7, 2011

Meraih Ketenangan Hati Yang Hakiki ( Bag. 1 )

Meraih Ketenangan Hati Yang Hakiki

Seiring dengan makin jauhnya zaman dari masa kenabian
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, maka semakin banyak pula kesesatan dan bid’ah yang tersebar ditengah kaum muslimin[1], sehingga indahnya sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan kebenaran makin asing dalam pandangan mereka. Bahkan lebih dari pada itu, mereka menganggap perbuatan-perbuatan bid’ah yang telah tersebar sebagai kebenaran yang tidak boleh ditinggalkan, dan sebaliknya jika ada sunnah Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang dihidupkan dan diamalkan kembali, mereka akan mengingkarinya dan memandangnya sebagai perbuatan buruk.

Sahabat yang mulia, Hudzaifah bin al-Yaman Rodiyallahu ‘Anhu berkata,
“Demi Allah yang jiwaku ditangan-Nya, sungguh perbuatan-perbuatan bid’ah akan bermunculan (diakhir zaman) sehingga kebenaran (sunnah Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam) tidak lagi terlihat kecuali (sangat sedikit) seperti cahaya yang (tampak) dari celah kedua batu (yang sempit) ini. Demi Allah, sungguh perbuatan-perbuatan bid’ah akan tersebar (ditengah kaum muslimin), sampai-sampai jika sebagian dari perbuatan bid’ah tersebut ditinggalkan, orang-orang akan mengatakan : sunnah (Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam) telah ditinggalkan!”[2].

Keadaan ini semakin diperparah kerusakannya dengan keberadaan para tokoh penyeru bid’ah dan kesesatan, yang untuk mempromosikan dagangan bid’ah, mereka tidak segan-segan memberikan iming-iming janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkan ajaran bid’ah tersebut.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau pada saat ini tidak sedikit kaum muslimin yang terpengaruh dengan propaganda tersebut, sehingga banyak diantara mereka yang lebih giat dan semangat mengamalkan berbagai bentuk dzikir, wirid maupun sholawat. Bid’ah yang diajarkan para tokoh tersebut daripada mempelajari dan mengerjakan amalan yang bersumber dari petunjuk Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat beliau Rodhiyallahu ‘Anhum.

Tentu saja ini termasuk tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Ta’ala yang lurus. Allah Ta’ala berfirman,

Tentu saja ini termasuk tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Ta’ala yang lurus. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)”. (QS. Al-An’aam: 112).

Bahkan setan berusaha menghiasi perbuatan-perbuatan bid’ah dan sesat tersebut sehingga terlihat indah dan baik dimata manusia, dengan mengesankan bahwa dengan mengerjakan amalan bid’ah tersebut hati menjadi tenang dan semua kesusahan yang dihadapi akan teratasi (??!!). Pernyataan-pernyataan seperti ini sangat sering terdengar dari para pengikut ajaran-ajaran bid’ah tersebut, sebagai bukti kuatnya cengkraman tipu daya setan dalam diri mereka. Allah Ta’ala berfirman,

“Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Faathir: 8).

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Wallahu'alam Bishshowab

Meraih Ketenangan Hati Yang Hakiki ( Bag. 2 )

Sumber Ketenangan Dan Penghilang Kesusahan yang Hakiki

Setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala wajib meyakini bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala, membaca Al-Qur’an, berdo’a kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang Maha Indah, dan mengamalkan keta’atan kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ro’du: 28).

Artinya : dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[3].

Bahkan tidak ada sesuatupun yang lebih besar mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berdzikir kepada Allah Ta’ala[4].

Salah seorang ulama salaf berkata,
“Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar didunia ini”. Maka ada yang bertanya,
“Apakah kenikmatan yang paling besar didunia ini?” Ulama ini menjawab,
“Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berdzikir dan mengamalkan keta’atan kepada-Nya”[5].

Inilah makna ucapan yang masyhur dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah Ta’ala merahmatinya-,
“Sesungguhnya didunia ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk kedalam surga didunia ini maka dia tidak akan masuk kedalam surga diakhirat nanti”[6].

Makna “surga didunia” dalam ucapan beliau ini adalah kecintaan (yang utuh) dan ma’rifah (pengetahuan yang sempurna) kepada Allah Ta’ala (dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan cara baik dan benar) serta selalu berdzikir kepada-Nya, yang dibarengi dengan perasaan tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, serta selalu mentauhidkan (mengesakan)-Nya dalam kecintaan, rasa takut, berharap, bertawakal (berserah diri) dan bermuamalah, dengan menjadikan (kecintaan dan keridhoan) Allah Ta’ala satu-satunya yang mengisi dan menguasai pikiran, tekad dan kehendak seorang hamba. Inilah kenikmatan didunia yang tiada bandingannya yang sekaligus merupakan qurrotul‘ain (penyejuk dan penyenang hati) bagi orang-orang yang mencintai dan mengenal Allah[7].

Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua masalah yang dihadapi seorang manusia adalah dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,
”Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya ridzki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”. (QS. Ath-Tholaaq: 2-3).

Ketaqwaan yang sempurna kepada Allah tidak mungkin dicapai kecuali dengan menegakkan semua amal ibadah, serta menjauhi semua perbuatan yang diharamkan dan dibenci oleh Allah Ta’ala[8].
Dalam ayat berikutnya Allah berfirman,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya”. (QS. Ath-Tholaaq: 4).

Artinya : Allah akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya)[9].

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Wallahu'alam Bishshowab

Meraih Ketenangan Hati Yang Hakiki ( Bag. 3 )

Adapun semua bentuk dzikir, wirid maupun sholawat yang tidak bersumber dari petunjuk Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, meskipun banyak tersebar dimasyarakat muslim, maka semua itu adalah amalan buruk dan tidak mungkin akan mendatangkan ketenangan yang hakiki bagi hati dan jiwa manusia, apalagi menjadi sumber penghilang kesusahan mereka. Karena semua perbuatan tersebut termasuk bid’ah[10].
Yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sabda Beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat, dan semua yang sesat (tempatnya) dalam neraka”.[11].

Hanya amalan ibadah yang bersumber dari petunjuk Al-Qur’an dan hadits Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang bisa membersihkan hati dan mensucikan jiwa manusia dari noda dosa dan maksiat yang mengotorinya, yang dengan itulah hati dan jiwa manusia akan merasakan ketenangan dan ketentraman.

Allah Ta’ala berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rosul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Ali-‘Imron: 164).

Makna firman-Nya “mensucikan
(jiwa) mereka”
adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlaq, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah I)[12].

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Robbmu (Al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Yunus: 57)

Oleh karena itu, Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan perumpaan petunjuk dari Allah Ta’ala yang beliau bawa seperti hujan baik yang Allah Ta’ala turunkan dari langit, karena hujan yang turun akan menghidupkan dan menyegarkan tanah yang kering, sebagaimana petunjuk Allah Ta’ala akan menghidupkan dan menentramkan hati manusia. Beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Sesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…”.[13].

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Wallahu'alam Bishshowab

Meraih Ketenangan Hati Yang Hakiki ( Bag. 4 )

Ketenangan Batin Yang Palsu

Kalau ada yang berkata, realitanya dilapangan banyak kita dapati orang-orang yang mengaku merasakan ketenangan dan ketentraman batin (?) setelah mengamalkan dzikir-dzikir, wirid-wirid dan sholawat-sholawat bid’ah lainnya.

Jawabannya : Kenyataan tersebut diatas tidak semua bisa diingkari, meskipun tidak semua juga bisa dibenarkan, karena tidak sedikit kebohongan yang dilakukan oleh para penggemar dzikir-dzikir/wirid-wirid bid’ah tersebut untuk melariskan dagangan bid’ah mereka.

Kalaupun pada kenyataannya ada yang benar-benar merasakan hal tersebut diatas, maka dapat dipastikan bahwa itu adalah ketenangan batin yang palsu dan semu, karena berasal dari tipu daya setan dan tidak bersumber dari petunjuk Allah. Bahkan ini termasuk perangkap setan dengan menghiasi amalan buruk agar telihat indah dimata manusia.

Allah Ta’ala berfirman,
“Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Fathir: 8).

Artinya : setan menghiasi perbuatan mereka yang buruk dan rusak, serta mengesankannya baik dalam pandangan mata mereka[14].

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)”. (QS Al-An’am: 112)

Artinya : para setan menghiasi amalan-amalan buruk bagi manusia untuk menipu dan memperdaya mereka[15].

Demikianlah gambaran ketenangan batin palsu yang dirasakan oleh orang-orang yang mengamalkan dzikir-dzikir/wirid-wirid bid’ah, yang pada hakekatnya bukan ketenangan batin, tapi merupakan tipu daya setan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah Ta’ala, dengan mengesankan pada mereka bahwa perbuatan-perbuatan tersebut baik dan mendatangkan ketentraman batin.

Bahkan sebagian mereka mengaku merasakan kekhusyuan hati yang mendalam ketika membaca dzikir-dzikir/wirid-wirid bid’ah tersebut melebihi apa yang mereka rasakan ketika membaca dan mengamalkan dzikir-dzikir/wirid-wirid yang bersumber dari wahyu Allah Ta’ala.

Padahal semua ini justru merupakan bukti nyata kuatnya kedudukan dan tipu daya setan bersarang dalam diri mereka. Karena bagaimana mungkin setan akan membiarkan manusia merasakan ketenangan iman dan tidak membisikkan was-was dalam hatinya?

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah membuat perumpaan hal ini[16] dengan seorang pencuri yang ingin mengambil harta orang. Manakah yang akan selalu diintai dan didatangi oleh pencuri tersebut : rumah yang berisi harta dan perhiasan yang melimpah atau rumah yang kosong melompong bahkan telah rusak?

Jawabnya : jelas rumah pertama yang akan ditujunya, karena rumah itulah yang bisa dicuri harta bendanya. Adapun rumah yang pertama, maka akan “aman” dari gangguannya karena tidak ada hartanya, bahkan mungkin rumah tersebut merupakan lokasi yang strategis untuk dijadikan tempat tinggal dan sarangnya.

Demikinlah keadaan hati manusia, hati yang dipenuhi tauhid dan keimanan yang kokoh kepada Allah Ta’ala, karena selalu mengamalkan petunjuk-Nya, akan selalu diintai dan digoda setan untuk dicuri keimanannya, sebagaimana rumah yang berisi harta akan selalu diintai dan didatangi pencuri.

Oleh karena itu, dalam sebuah hadits shohih, ketika salah seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam,
“Wahai Rosulullah, sesungguhnya aku membisikkan (dalam) diriku dengan sesuatu (yang buruk dari godaan setan), yang sungguh jika aku jatuh dari langit (ke bumi) lebih aku sukai dari pada mengucapkan/melakukan keburukan tersebut”. Maka beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan menjadi was-was (bisikan dalam jiwa)”.[17].

Dalam riwayat lain yang semakna, Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Itulah (tanda) kemurnian iman”.[18].

Dalam memahami hadits yang mulia ini ada dua pendapat dari para ulama :

- Penolakan dan kebencian orang tersebut terhadap keburukan yang dibisikkan oleh setan itulah tanda kemurnian iman dalam hatinya,

- Adanya godaan dan bisikkan setan dalam jiwa manusia itulah tanda kemurnian iman, karena setan ingin merusak iman orang tersebut dengan godaannya[19].

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Wallahu'alam Bishshowab

Meraih Ketenangan Hati Yang Hakiki ( Bag. 5 )

Adapun hati yang rusak dan kosong dari keimanan karena jauh dari petunjuk Allah Ta’ala, maka hati yang gelap ini terkesan “tenang” dan “aman” dari godaan setan, karena hati ini telah dikuasai oleh setan, dan tidak mungkin “pencuri akan mengganggu dan merampok disarangnya sendiri”.

Inilah makna ucapan sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma, ketika ada yang mengatakan kepada beliau, “Sesungguhnya orang-orang Yahudi menyangka bahwa mereka tidak diganggu bisikan-bisikan (setan) dalam shalat mereka”. Abdullah bin ‘Abbas menjawab, “Apa yang dapat dikerjakan oleh setan pada hati yang telah hancur berantakan?”[20].

Nasehat Dan Penutup

Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kaum muslimin untuk meyakini indahnya memahami dan mengamalkan petunjuk Allah dan Rosul-Nya Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, yang hanya dengan itulah seorang hamba bisa meraih kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang hakiki dalam kehidupannya.

Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[21] hidup bagimu”. (QS. Al-Anfal: 24)

Imam Ibnul Qayyim -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- berkata,
“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat (indah) hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya Shaollallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang bahagia dan indah)…Maka kehidupan baik (bahagia) yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya secara lahir maupun batin”.[22]

Sebagai penutup, akan kami kutip nasehat Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu yang berbunyi,
“Wahai saudarakau sesama muslim, waspada dan hindarilah (semua) bentuk dzikir dan wirid bid’ah yang akan menjerumuskanmu kedalam jurang syirik (menyekutukan Allah Ta’ala). Berkomitmenlah dengan dzikir (wirid) yang bersumber dari (petunjuk) Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berbicara bukan dengan landasan hawa nafsu, (melainkan dari wahyu Allah Ta’ala). Dengan mengikuti (petunjuk) beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, (kita akan meraih) hidayah Allah Ta’ala dan keselamatan (didunia dan akhirat). (Sebaliknya) dengan menyelisihi (petunjuk) beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, menjadikan amal perbuatan kita tertolak (tidak diterima oleh Allah Ta’ala). Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan (dalam agama Islam) yang tidak sesuai dengan petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim)[23].

Kota Kendari, 23 Syawwal 1431 H

Penulis :
Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, MA
Artikel :
www.muslim.or.id

[1]. Lihat ucapan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “I’laamul muwaqqi’iin” (4/118).

[2]. Dinukil oleh imam asy-Syaathibi dalam kitab“al-I’tishaam” (1/106 – Tahqiiq Syaikh Salim al-Hilali).

[3]. Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 417).

[4]. Ibid.

[5]. Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfaan” (1/72).

[6]. Dinukil oleh murid beliau Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilush shayyib” (hal. 69).

[7]. Lihat kitab “al-Waabilush shayyib” (hal. 69).

[8]. Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul uluumi walhikam” (hal. 197).

[9]. Tafsir Ibnu Katsir (4/489).

[10]. Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rosulullah.

[11]. HSR. Muslim (no. 867), An-Nasa’i (no. 1578) dan Ibnu Majah (no. 45).

[12]. Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (1/267).

[13]. HSR. Al-Bukhari (no. 79) dan Muslim (no. 2282).

[14]. Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 685).

[15]. Lihat kitab “Ma’aalimut tanziil” (3/180).

[16]. Dalam kitab beliau “al-Waabilush shayyib” (hal. 40-41).

[17]. HR. Ahmad (1/235) dan Abu Dawud (no. 5112).

[18]. HSR. Mualim (no. 132).

[19]. Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Fawaa-id” (hal. 174).

[20]. Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “al-Waabilush shayyib” (hal. 41).

[21]. Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/34).

[22]. Kitab “al-Fawa-id” (hal. 121-cet. Muassasatu ummil qura’).

[23]. Kitab “fadha-ilush shalaati wassalaam” (hal. 49).

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html

Wallahu'alam Bishshowab

Memahami Arti Dzuhud ( Bag. 1 )

Memahami Arti Dzuhud

Segala puji hanya bagi Allah, Robb pemberi berbagai nikmat. Sholawat dan Salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta Keluarga dan para Sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Sebagian orang ada yang salah paham dengan istilah dzuhud. Dikira dzuhud adalah hidup tanpa harta. Dikira dzuhud adalah hidup miskin. Lalu apa yang dimaksud dengan dzuhud yang sebenarnya? Semoga tulisan berikut bisa memberikan jawaban berarti.

Mengenai dzuhud disebutkan dalam sebuah hadits,

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam lantas berkata,
“Wahai Rosulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia”? Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dzuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Dzuhudlah pada apa yang ada disisi manusia, manusiapun akan mencintaimu”. (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan).

Dalam hadits diatas terdapat dua nasehat, yaitu untuk dzuhud pada dunia, ini akan membuahkan kecintaan Allah, dan dzuhud pada apa yang ada disisi manusia, ini akan mendatangkan kecintaan manusia.[1]

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-arti-zuhud.html

Sumber Artikel :
islam-download.net/artikel-islami/memahami-arti-zuhud.html

Wallahu'alam Bishshowab

Memahami Arti Dzuhud ( Bag. 2 )

Penyebutan Dzuhud Terhadap Dunia Dalam Al-Qur’an Dan Hadits

Masalah dzuhud telah disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits. Diantara ayat yang menyebutkan masalah dzuhud adalah firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin dikalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan,

“Orang yang beriman itu berkata : “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (QS. Ghofir: 38-39).

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al-A’laa: 16-17).

Mustaurid berkata bahwa Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- dilautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa”. (HR. Muslim no. 2858).

Al Hafidzh Ibnu Hajar Rohimahullah menjelaskan,
“Dunia seperti air yang tersisa dijari ketika jari tersebut dicelup dilautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa dilautan”.[2]. Bayangkanlah, perbandingan yang amat jauh antara kenikmatan dunia dan akhirat!

Dari Sahl bin Sa’ad, Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Seandainya harga dunia itu disisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang-orang kafir walaupun hanya seteguk air”. (HR. Tirmidzi no. 2320. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Tiga Makna Dzuhud Terhadap Dunia

Yang dimaksud dengan dzuhud pada sesuatu -sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al Hambali- adalah berpaling darinya dengan sedikit dalam memilikinya, menghinakan diri darinya serta membebaskan diri darinya.[3] Adapun mengenai dzuhud terhadap dunia para ulama menyampaikan beberapa pengertian, diantaranya disampaikan oleh sahabat Abu Dzar.

Abu Dzar mengatakan,
“Dzuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi dzuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada ditanganmu. Dzuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu”.[4]

Yunus bin Maysaroh menambahkan pengertian dzuhud yang disampaikan oleh Abu Dzar. Beliau menambahkan bahwa yang termasuk dzuhud adalah,
“Samanya pujian dan celaan ketika berada diatas kebenaran”.[5]

Ibnu Rajab Al Hambali Rohimahullah mengatakan,
“Dzuhud terhadap dunia dalam riwayat diatas ditafsirkan dengan tiga hal, yang kesemuanya adalah amalan batin (amalan hati), bukan amalan lahiriyah (jawarih/anggota badan). Abu Sulaiman menyatakan,
“Janganlah engkau mempersaksika seorang pun dengan dzuhud, karena zuhud sebenarnya adalah amalan hati“.[6]

Cobalah kita perhatikan penjelasan dari Ibnu Rajab Al Hambali Rohimahullah terhadap tiga unsur dari pengertian dzuhud yang telah disebutkan diatas.

Pertama : Dzuhud adalah yakin bahwa apa yang ada disisi Allah itu lebih diharap-harap dari apa yang ada di sisi-Nya. Ini tentu saja dibangun diatas rasa yakin yang kokoh pada Allah. Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menyatakan,
“Yang menunjukkan lemahnya keyakinanmu, apa yang ada disisimu (berupa harta dan lainnya –pen) lebih engkau harap dari apa yang ada disisi Allah”.

Abu Hazim -seorang yang dikenal begitu dzuhud- ditanya,
“Apa saja hartamu?” Ia pun berkata, “Aku memiliki dua harta berharga yang membuatku tidak khawatir miskin :
[1]. Rasa yakin pada Allah dan,
[2]. Tidak mengharap-harap apa yang ada disisi manusia”.

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-arti-zuhud.html

Sumber Artikel :
islam-download.net/artikel-islami/memahami-arti-zuhud.html

Wallahu'alam Bishshowab

Memahami Arti Dzuhud ( Bag. 3 )

Intinya, pengertian dzuhud yang pertama adalah begitu yakin kepada Allah. Kedua, diantara bentuk dzuhud adalah jika seorang hamba ditimpa musibah dalam hal dunia berupa hilangnya harta, anak atau selainnya, maka ia lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada dunia tadi tetap ada. Ini tentu saja dibangun diatas rasa yakin yang sempurna. Siapakah yang rela hartanya hilang, lalu ia lebih berharap pahala?!. Yang diharap ketika harta itu hilang adalah bagaimana bisa harta tersebut itu kembali, itulah yang dialami sebagian manusia. Namun Abu Dzar mengistilahkan dzuhud dengan rasa yakin yang kokoh. Orang yang dzuhud lebih berharap pahala dari musibah dunianya daripada mengharap dunia tadi tetap ada. Sungguh ini tentu saja dibangun atas dasar iman yang mantap.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal ini telah mengajarkan do’a yang sangat bagus kandungannya, yaitu berisi permintaan rasa yakin agar begitu ringan menghadapi musibah. Do’a tersebut adalah,

“Alloohummaqsim lanaa min khosy-yatika maa yahuulu bihii bainanaa wabaina ma’aashiika, waming thoo’atika maa tuballighunaa bihi jannatak, waminal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alainaa mushiibaatid dun-yaa...”
(Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah rasa yakin yang dapat meringankan berbagai musibah didunia). (HR. Tirmidzi no. 3502. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Inilah diantara tanda dzuhud, ia tidak begitu berharap dunia tetap ada ketika ia tertimpa musibah. Namun yang ia harap adalah pahala disisi Allah.

‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan,
“Siapa yang dzuhud terhadap dunia, maka ia akan semakin ringan menghadapi musibah”.
Tentu saja yang dimaksud dzuhud disini adalah tidak mengharap dunia itu tetap ada ketika musibah dunia itu datang. Sekali lagi, sikap semacam ini tentu saja dimiliki oleh orang yang begitu yakin akan janji Allah dibalik musibah.
Ketiga, Dzuhud adalah keadaan seseorang ketika dipuji ataupun dicela dalam kebenaran itu sama saja. Inilah tanda seseorang begitu dzuhud pada dunia, menganggap dunia hanya suatu yang rendahan saja, ia pun sedikit berharap dengan keistimewaan dunia. Sedangkan seseorang yang menganggap dunia begitu luar biasa, ia begitu mencari pujian dan benci pada celaan. Orang yang kondisinya sama ketika dipuji dan dicela dalam kebenaran, ini menunjukkan bahwa hatinya tidak mengistimewakan satu pun makhluk. Yang ia cinta adalah kebenaran dan yang ia cari adalah ridho ArRohman.

Orang yang dzuhud selalu mengharap ridho Ar Rohman bukan mengharap-harap pujian manusia. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud,
“Rasa yakin adalah seseorang tidak mencari ridho manusia, lalu mendatangkan murka Allah. Allah sungguh memuji orang yang berjuang dijalan Allah. Mereka sama sekali tidaklah takut pada celaan manusia”.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
“Orang yang dzuhud adalah yang melihat orang lain, lantas ia katakan, “Orang tersebut lebih baik dariku”.
Ini menunjukkan bahwa hakekat dzuhud adalah ia tidak menganggap dirinya lebih dari yang lain. Hal ini termasuk dalam pengertian dzuhud yang ketiga. Pengertian dzuhud yang biasa dipaparkan oleh ulama salaf kembali kepada tiga pengertian diatas. Diantaranya, Wahib bin Al Warod mengatakan,
“Dzuhud terhadap dunia adalah seseorang tidak berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya dan tidak begitu berbangga dengan nikmat yang ia peroleh”.
Pengertian ini kembali pada pengertian dzuhud yang kedua.[7]

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-arti-zuhud.html

Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/memahami-arti-zuhud.html

Wallahu'alam Bishshowab

Memahami Arti Dzuhud ( Bag. 4 )

Pengertian Dzuhud Yang Amat Baik

Jika kita lihat pengertian dzuhud yang lebih bagus dan mencakup setiap pengertian dzuhud yang disampaikan oleh para ulama, maka pengertian yang sangat bagus adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan,
“Para ulama berselisih paham tentang makna dzuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa dzuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Adapula yang mengatakan, “Dzuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat”. Adapula yang memberikan pengertian, “Dzuhud adalah meninggalkan rasa kenyang”. Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat, “Dzuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah”.[8]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,
“Definisi dzuhud dari Abu Sulaiman ini amatlah bagus. Definisi telah mencakup seluruh definisi, pembagian dan macam-macam dzuhud”.[9]

Jika bisnis yang dijalani malah lebih menyibukkan pada dunia sehingga lalai dari kewajiban sholat, maka sikap dzuhud adalah meninggalkannya. Begitupula jika permainan yang menghibur diri begitu berlebihan dan malah melalaikan dari Allah, maka sikap dzuhud adalah meninggalkannya. Demikian pengertian dzuhud yang amat luas cakupan maknanya.

Dunia Tidak Tercela Secara Mutlak

Ada sebuah perkataan dari ‘Ali bin Abi Tholib namun dengan sanad yang dikritisi. ‘Ali pernah mendengar seseorang mencela-cela dunia, lantas beliau mengatakan,
“Dunia adalah negeri yang baik bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan baik. Duniapun negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya. Dunia juga adalah negeri ghoni (yang berkecukupan) bagi orang yang menjadikan dunia sebagai bekal akhirat...”[10]

Oleh karena itu, Ibnu Rajab mengatakan,
“Dunia itu tidak tercela secara mutlak, inilah yang dimaksudkan oleh Amirul Mukminin -‘Ali bin Abi Tholib-. Dunia bisa jadi terpuji bagi siapa saja yang menjadikan dunia sebagai bekal untuk beramal sholih”.

Ingatlah baik-baik maksud dunia itu tercela agar kita tidak salah memahami!. Dunia itu jadi tercela jika dunia tersebut tidak ditujukan untuk mencari ridho Allah dan beramal sholih.

Dzuhud Bukan Berarti Hidup Tanpa Harta

Sebagaimana sudah ditegaskan bahwa dunia itu tidak tercela secara mutlak. Namun sebagian orang masih salah paham dengan pengertian dzuhud. Jika kita perhatikan pengertian dzuhud yang disampaikan diatas, tidaklah kita temukan bahwa dzuhud dimaksudkan dengan hidup miskin, enggan mencari nafkah dan hidup penuh menderita. Dzuhud adalah perbuatan hati. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang dzuhud. Jika ada ciri-ciri dzuhud sebagaimana yang telah diutarakan diatas, itulah dzuhud yang sebenarnya. Berikut satu kisah yang bisa jadi pelajaran bagi kita dalam memahami arti dzuhud.

Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok,
“Engkau memerintahkan kami untuk dzuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”

Ibnul Mubarok mengatakan,
“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk ta’at pada Robbku”.[11]

Semoga pembahasan kami kali ini dapat memahamkan arti dzuhud yang sebenarnya. Raihlah kecintaan Allah lewat sifat dzuhud. Semoga Allah menganugerahkan pada kita sekalian sifat yang mulia ini.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush sholihaat.

Diselesaikan disore hari, 17 Jumadits Tsani 1431 H (30/05/2010), di Panggang-GK

Penulis :
Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel :
www.muslim.or.id

Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-arti-zuhud.html

Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/memahami-arti-zuhud.html

Wallahu'alam Bishshowab