Adapun hati yang rusak dan kosong dari keimanan karena jauh dari petunjuk Allah Ta’ala, maka hati yang gelap ini terkesan “tenang” dan “aman” dari godaan setan, karena hati ini telah dikuasai oleh setan, dan tidak mungkin “pencuri akan mengganggu dan merampok disarangnya sendiri”.
Inilah makna ucapan sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma, ketika ada yang mengatakan kepada beliau, “Sesungguhnya orang-orang Yahudi menyangka bahwa mereka tidak diganggu bisikan-bisikan (setan) dalam shalat mereka”. Abdullah bin ‘Abbas menjawab, “Apa yang dapat dikerjakan oleh setan pada hati yang telah hancur berantakan?”[20].
Nasehat Dan Penutup
Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kaum muslimin untuk meyakini indahnya memahami dan mengamalkan petunjuk Allah dan Rosul-Nya Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, yang hanya dengan itulah seorang hamba bisa meraih kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang hakiki dalam kehidupannya.
Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rosul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[21] hidup bagimu”. (QS. Al-Anfal: 24)
Imam Ibnul Qayyim -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- berkata,
“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat (indah) hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya Shaollallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang bahagia dan indah)…Maka kehidupan baik (bahagia) yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rosul-Nya secara lahir maupun batin”.[22]
Sebagai penutup, akan kami kutip nasehat Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu yang berbunyi,
“Wahai saudarakau sesama muslim, waspada dan hindarilah (semua) bentuk dzikir dan wirid bid’ah yang akan menjerumuskanmu kedalam jurang syirik (menyekutukan Allah Ta’ala). Berkomitmenlah dengan dzikir (wirid) yang bersumber dari (petunjuk) Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, yang berbicara bukan dengan landasan hawa nafsu, (melainkan dari wahyu Allah Ta’ala). Dengan mengikuti (petunjuk) beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, (kita akan meraih) hidayah Allah Ta’ala dan keselamatan (didunia dan akhirat). (Sebaliknya) dengan menyelisihi (petunjuk) beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, menjadikan amal perbuatan kita tertolak (tidak diterima oleh Allah Ta’ala). Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan (dalam agama Islam) yang tidak sesuai dengan petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim)[23].
Kota Kendari, 23 Syawwal 1431 H
Penulis :
Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, MA
Artikel :
www.muslim.or.id
[1]. Lihat ucapan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “I’laamul muwaqqi’iin” (4/118).
[2]. Dinukil oleh imam asy-Syaathibi dalam kitab“al-I’tishaam” (1/106 – Tahqiiq Syaikh Salim al-Hilali).
[3]. Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 417).
[4]. Ibid.
[5]. Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfaan” (1/72).
[6]. Dinukil oleh murid beliau Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Waabilush shayyib” (hal. 69).
[7]. Lihat kitab “al-Waabilush shayyib” (hal. 69).
[8]. Lihat penjelasan Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul uluumi walhikam” (hal. 197).
[9]. Tafsir Ibnu Katsir (4/489).
[10]. Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang tidak dicontohkan oleh Rosulullah.
[11]. HSR. Muslim (no. 867), An-Nasa’i (no. 1578) dan Ibnu Majah (no. 45).
[12]. Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (1/267).
[13]. HSR. Al-Bukhari (no. 79) dan Muslim (no. 2282).
[14]. Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 685).
[15]. Lihat kitab “Ma’aalimut tanziil” (3/180).
[16]. Dalam kitab beliau “al-Waabilush shayyib” (hal. 40-41).
[17]. HR. Ahmad (1/235) dan Abu Dawud (no. 5112).
[18]. HSR. Mualim (no. 132).
[19]. Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Fawaa-id” (hal. 174).
[20]. Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “al-Waabilush shayyib” (hal. 41).
[21]. Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/34).
[22]. Kitab “al-Fawa-id” (hal. 121-cet. Muassasatu ummil qura’).
[23]. Kitab “fadha-ilush shalaati wassalaam” (hal. 49).
Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html
Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html
Wallahu'alam Bishshowab
No comments:
Post a Comment