Pengertian Dzuhud Yang Amat Baik
Jika kita lihat pengertian dzuhud yang lebih bagus dan mencakup setiap pengertian dzuhud yang disampaikan oleh para ulama, maka pengertian yang sangat bagus adalah yang disampaikan oleh Abu Sulaiman Ad Daroni. Beliau mengatakan,
“Para ulama berselisih paham tentang makna dzuhud di Irak. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa dzuhud adalah enggan bergaul dengan manusia. Adapula yang mengatakan, “Dzuhud adalah meninggalkan berbagai macam syahwat”. Adapula yang memberikan pengertian, “Dzuhud adalah meninggalkan rasa kenyang”. Namun definisi-definisi ini saling mendekati. Aku sendiri berpendapat, “Dzuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah”.[8]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,
“Definisi dzuhud dari Abu Sulaiman ini amatlah bagus. Definisi telah mencakup seluruh definisi, pembagian dan macam-macam dzuhud”.[9]
Jika bisnis yang dijalani malah lebih menyibukkan pada dunia sehingga lalai dari kewajiban sholat, maka sikap dzuhud adalah meninggalkannya. Begitupula jika permainan yang menghibur diri begitu berlebihan dan malah melalaikan dari Allah, maka sikap dzuhud adalah meninggalkannya. Demikian pengertian dzuhud yang amat luas cakupan maknanya.
Dunia Tidak Tercela Secara Mutlak
Ada sebuah perkataan dari ‘Ali bin Abi Tholib namun dengan sanad yang dikritisi. ‘Ali pernah mendengar seseorang mencela-cela dunia, lantas beliau mengatakan,
“Dunia adalah negeri yang baik bagi orang-orang yang memanfaatkannya dengan baik. Duniapun negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya. Dunia juga adalah negeri ghoni (yang berkecukupan) bagi orang yang menjadikan dunia sebagai bekal akhirat...”[10]
Oleh karena itu, Ibnu Rajab mengatakan,
“Dunia itu tidak tercela secara mutlak, inilah yang dimaksudkan oleh Amirul Mukminin -‘Ali bin Abi Tholib-. Dunia bisa jadi terpuji bagi siapa saja yang menjadikan dunia sebagai bekal untuk beramal sholih”.
Ingatlah baik-baik maksud dunia itu tercela agar kita tidak salah memahami!. Dunia itu jadi tercela jika dunia tersebut tidak ditujukan untuk mencari ridho Allah dan beramal sholih.
Dzuhud Bukan Berarti Hidup Tanpa Harta
Sebagaimana sudah ditegaskan bahwa dunia itu tidak tercela secara mutlak. Namun sebagian orang masih salah paham dengan pengertian dzuhud. Jika kita perhatikan pengertian dzuhud yang disampaikan diatas, tidaklah kita temukan bahwa dzuhud dimaksudkan dengan hidup miskin, enggan mencari nafkah dan hidup penuh menderita. Dzuhud adalah perbuatan hati. Oleh karenanya, tidak hanya sekedar memperhatikan keadaan lahiriyah, lalu seseorang bisa dinilai sebagai orang yang dzuhud. Jika ada ciri-ciri dzuhud sebagaimana yang telah diutarakan diatas, itulah dzuhud yang sebenarnya. Berikut satu kisah yang bisa jadi pelajaran bagi kita dalam memahami arti dzuhud.
Abul ‘Abbas As Siroj, ia berkata bahwa ia mendengar Ibrahim bin Basyar, ia berkata bahwa ‘Ali bin Fudhail berkata, ia berkata bahwa ayahnya (Fudhail bin ‘Iyadh) berkata pada Ibnul Mubarok,
“Engkau memerintahkan kami untuk dzuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa bisa begitu?”
Ibnul Mubarok mengatakan,
“Wahai Abu ‘Ali (yaitu Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar bisa membantuku untuk ta’at pada Robbku”.[11]
Semoga pembahasan kami kali ini dapat memahamkan arti dzuhud yang sebenarnya. Raihlah kecintaan Allah lewat sifat dzuhud. Semoga Allah menganugerahkan pada kita sekalian sifat yang mulia ini.
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush sholihaat.
Diselesaikan disore hari, 17 Jumadits Tsani 1431 H (30/05/2010), di Panggang-GK
Penulis :
Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel :
www.muslim.or.id
Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-arti-zuhud.html
Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/memahami-arti-zuhud.html
Wallahu'alam Bishshowab
No comments:
Post a Comment