Intinya, pengertian dzuhud yang pertama adalah begitu yakin kepada Allah. Kedua, diantara bentuk dzuhud adalah jika seorang hamba ditimpa musibah dalam hal dunia berupa hilangnya harta, anak atau selainnya, maka ia lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada dunia tadi tetap ada. Ini tentu saja dibangun diatas rasa yakin yang sempurna. Siapakah yang rela hartanya hilang, lalu ia lebih berharap pahala?!. Yang diharap ketika harta itu hilang adalah bagaimana bisa harta tersebut itu kembali, itulah yang dialami sebagian manusia. Namun Abu Dzar mengistilahkan dzuhud dengan rasa yakin yang kokoh. Orang yang dzuhud lebih berharap pahala dari musibah dunianya daripada mengharap dunia tadi tetap ada. Sungguh ini tentu saja dibangun atas dasar iman yang mantap.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal ini telah mengajarkan do’a yang sangat bagus kandungannya, yaitu berisi permintaan rasa yakin agar begitu ringan menghadapi musibah. Do’a tersebut adalah,
“Alloohummaqsim lanaa min khosy-yatika maa yahuulu bihii bainanaa wabaina ma’aashiika, waming thoo’atika maa tuballighunaa bihi jannatak, waminal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alainaa mushiibaatid dun-yaa...”
(Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepadaMu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepadaMu, dan ketaatan kepadaMu yang mengantarkan kami kepada SurgaMu, dan curahkanlah rasa yakin yang dapat meringankan berbagai musibah didunia). (HR. Tirmidzi no. 3502. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Inilah diantara tanda dzuhud, ia tidak begitu berharap dunia tetap ada ketika ia tertimpa musibah. Namun yang ia harap adalah pahala disisi Allah.
‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan,
“Siapa yang dzuhud terhadap dunia, maka ia akan semakin ringan menghadapi musibah”.
Tentu saja yang dimaksud dzuhud disini adalah tidak mengharap dunia itu tetap ada ketika musibah dunia itu datang. Sekali lagi, sikap semacam ini tentu saja dimiliki oleh orang yang begitu yakin akan janji Allah dibalik musibah.
Ketiga, Dzuhud adalah keadaan seseorang ketika dipuji ataupun dicela dalam kebenaran itu sama saja. Inilah tanda seseorang begitu dzuhud pada dunia, menganggap dunia hanya suatu yang rendahan saja, ia pun sedikit berharap dengan keistimewaan dunia. Sedangkan seseorang yang menganggap dunia begitu luar biasa, ia begitu mencari pujian dan benci pada celaan. Orang yang kondisinya sama ketika dipuji dan dicela dalam kebenaran, ini menunjukkan bahwa hatinya tidak mengistimewakan satu pun makhluk. Yang ia cinta adalah kebenaran dan yang ia cari adalah ridho ArRohman.
Orang yang dzuhud selalu mengharap ridho Ar Rohman bukan mengharap-harap pujian manusia. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud,
“Rasa yakin adalah seseorang tidak mencari ridho manusia, lalu mendatangkan murka Allah. Allah sungguh memuji orang yang berjuang dijalan Allah. Mereka sama sekali tidaklah takut pada celaan manusia”.
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
“Orang yang dzuhud adalah yang melihat orang lain, lantas ia katakan, “Orang tersebut lebih baik dariku”.
Ini menunjukkan bahwa hakekat dzuhud adalah ia tidak menganggap dirinya lebih dari yang lain. Hal ini termasuk dalam pengertian dzuhud yang ketiga. Pengertian dzuhud yang biasa dipaparkan oleh ulama salaf kembali kepada tiga pengertian diatas. Diantaranya, Wahib bin Al Warod mengatakan,
“Dzuhud terhadap dunia adalah seseorang tidak berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya dan tidak begitu berbangga dengan nikmat yang ia peroleh”.
Pengertian ini kembali pada pengertian dzuhud yang kedua.[7]
Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-arti-zuhud.html
Atau :
http://islam-download.net/artikel-islami/memahami-arti-zuhud.html
Wallahu'alam Bishshowab
No comments:
Post a Comment