Penyebutan Dzuhud Terhadap Dunia Dalam Al-Qur’an Dan Hadits
Masalah dzuhud telah disebutkan dalam beberapa ayat dan hadits. Diantara ayat yang menyebutkan masalah dzuhud adalah firman Allah Ta’ala tentang orang mukmin dikalangan keluarga Fir’aun yang mengatakan,
“Orang yang beriman itu berkata : “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (QS. Ghofir: 38-39).
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al-A’laa: 16-17).
Mustaurid berkata bahwa Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- dilautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa”. (HR. Muslim no. 2858).
Al Hafidzh Ibnu Hajar Rohimahullah menjelaskan,
“Dunia seperti air yang tersisa dijari ketika jari tersebut dicelup dilautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa dilautan”.[2]. Bayangkanlah, perbandingan yang amat jauh antara kenikmatan dunia dan akhirat!
Dari Sahl bin Sa’ad, Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Seandainya harga dunia itu disisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang-orang kafir walaupun hanya seteguk air”. (HR. Tirmidzi no. 2320. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).
Tiga Makna Dzuhud Terhadap Dunia
Yang dimaksud dengan dzuhud pada sesuatu -sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al Hambali- adalah berpaling darinya dengan sedikit dalam memilikinya, menghinakan diri darinya serta membebaskan diri darinya.[3] Adapun mengenai dzuhud terhadap dunia para ulama menyampaikan beberapa pengertian, diantaranya disampaikan oleh sahabat Abu Dzar.
Abu Dzar mengatakan,
“Dzuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi dzuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada ditanganmu. Dzuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu”.[4]
Yunus bin Maysaroh menambahkan pengertian dzuhud yang disampaikan oleh Abu Dzar. Beliau menambahkan bahwa yang termasuk dzuhud adalah,
“Samanya pujian dan celaan ketika berada diatas kebenaran”.[5]
Ibnu Rajab Al Hambali Rohimahullah mengatakan,
“Dzuhud terhadap dunia dalam riwayat diatas ditafsirkan dengan tiga hal, yang kesemuanya adalah amalan batin (amalan hati), bukan amalan lahiriyah (jawarih/anggota badan). Abu Sulaiman menyatakan,
“Janganlah engkau mempersaksika seorang pun dengan dzuhud, karena zuhud sebenarnya adalah amalan hati“.[6]
Cobalah kita perhatikan penjelasan dari Ibnu Rajab Al Hambali Rohimahullah terhadap tiga unsur dari pengertian dzuhud yang telah disebutkan diatas.
Pertama : Dzuhud adalah yakin bahwa apa yang ada disisi Allah itu lebih diharap-harap dari apa yang ada di sisi-Nya. Ini tentu saja dibangun diatas rasa yakin yang kokoh pada Allah. Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menyatakan,
“Yang menunjukkan lemahnya keyakinanmu, apa yang ada disisimu (berupa harta dan lainnya –pen) lebih engkau harap dari apa yang ada disisi Allah”.
Abu Hazim -seorang yang dikenal begitu dzuhud- ditanya,
“Apa saja hartamu?” Ia pun berkata, “Aku memiliki dua harta berharga yang membuatku tidak khawatir miskin :
[1]. Rasa yakin pada Allah dan,
[2]. Tidak mengharap-harap apa yang ada disisi manusia”.
Sumber Artikel : http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-arti-zuhud.html
Sumber Artikel :
islam-download.net/artikel-islami/memahami-arti-zuhud.html
Wallahu'alam Bishshowab
No comments:
Post a Comment