Tiga Keadaan
Ibnul Qayyim menerangkan tiga hal ini dalam Al-Madarij-nya.
Pengagungan yang melalaikan adalah terpenuhinya hati dengan pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, sehingga hal itu melalaikannya untuk mengagungkan Selain-Nya, bahkan untuk sekedar menoleh kepada selain-Nya sekalipun. Maka seorang hamba menjadi senantiasa ingat akan keagungan ini ketika hatinya hadir bersama Robb-nya, bahkan hal itu senantiasa menemaninya. Sebab kehadiran hati bersama Allah mewajibkan timbulnya kesenangan dan kecintaan, yang jika keduanya tidak disertai dengan pengagungan maka akan menyebabkan ia keluar dari batas-batas ’ubudiyah (penyembahan) dan keta’atan yang benar.
Mudanat hamilah atau pendekatan diri yang membawa maksudnya adalah pendekatan diri seorang hamba yang membawa untuk berjalan menuju Allah dan melanggengkan perjalanan tersebut serta kehadiran hati bersama-Nya, mengagungkan-Nya serta terlalaikan karena keagungan-Nya itu dari selain Allah.
Sedangkan kesenangan yang membangkitkan adalah kegembiraan dan penghormatan serta kelezatan yang didapat seorang hamba pada saat melakukan pendekatan kepada Allah tersebut. Sebab sama sekali tidak ada sesuatupun kenikmatan duniawi yang menyerupai kesenangan dan kegembiraan hati dengan Allah. Tak ada sesuatu kesamaan yang dapat dijadikan ukuran.
Tidak diragukan lagi bahwa kesenangan ini membangkitkan semangat seorang hamba untuk melanggengkan perjalanannya menuju Allah Subhanahu Wa Ta‘ala serta mengarahkan daya upayanya menuju kepada-Nya dan mendapatkan keridhoan-Nya. Siapa saja yang belum mendapatkan kesenangan ini dan tidak juga sedikit darinya, maka hendaknya ia mengarahkan tuduhannya kepada iman dan amalnya sebagai penyebab, sebab iman itu memiliki rasa manis. Siapa saja yang belum merasakan manisnya iman maka hendaknya ia mengevaluasi diri kembali.
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta‘ala akan memberikan ganjaran bagi orang yang beramal atas amalnya dengan kenikmatan yang ia rasakan dalam hatinya. Jika ia belum mendapatkannya, maka amalnya itu memiliki andil sebagai penyebab. Pemantauan kita terhadap rasa manis didalam hati akan mewujudkan suatu perlindungan lahiriah dengan menjaga aktivitas lahir kita secara berkesinambungan. Juga akan melahirkan perlindungan batiniah dengan cara menjaga pikiran dan hati serta aktivitas batin.
Begitu banyak manfaaat yang didapat dari menyadari adanya muraqabatullah. Seorang makhluk yang terlepas dari kesadaran ini begitu merugi. Hendaknya kita jadikan kesadaran muraqabatullah senantiasa ada sebagai bagian pengawasan terhadap diri kita sendiri. (abuokasha)
Sumber :
Menggapai Manisnya Iman, Shalah Syadi; Qawaidul Mutsla, Syaikh Al-Utsaimin
Bekasi, Rajab 12/7/1432 H (Juni 14/6/2011)
Wallahu’alam Bishshowab
No comments:
Post a Comment